(1) Perempuan
Didepan cermin keningku berkerut, berusaha menyakinkan diriku sendiri bahwa Lady Di itu punya partner seorang perempuan! Dalam sajaknya Freud berujar bahwa dalam sepuluh menit pertama dalam sebuah kencan, seseorang bisa mengetahui apakah teman kencannya adalah pasangan hidup, belahan jiwanya atau bukan. Aku akan membuktikannya malam ini. Malam ini aku berangkat kencan pertama dengan seorang gadis. Tapi entahlah, apakah ini bisa disebut sebagai sebuah kencan, karena jelas jelas dia bukan kekasihku. Mungkin dia hanya menganggapku sebagai seorang teman biasa tempatnya bercerita tentang segalanya.Dan teman tidak pernah berkencan, teman hanya nongkrong! Masa bodo!
Sudah hampir satu jam aku duduk termenung dipojok café blues ini sendirian. Dihadapanku tersisa pizza tradisional pesanan Fatimah yang tak habis disantapnya, sebotol guiness yang belum habis kuteguk, asbak berupa orang bersenggama ala kamasutra dari kayu nangka.Semua menatapku dan bertanya. Ada apa? Hatiku gusar tak menentu, Fatimah adalah belahan jiwaku ujarku. Aku yakin itu. Tapi kenapa ia tak menghiraukanku? Apakah karena dandanan dan gaya berpakaian kami yang terlalu jauh berbeda? Fatimah senantiasa membalut tubuhnya dengan terusan sampai telapak kaki, lengan bajunya sampai pergelangan tangan, dan membungkus rambut legamnya dengan sehelai selendang, sehari lima kali dia menghadap barat. Sementara aku? Rambutku entah kapan terakhir dicuci? Dipotong pendek ala gadis jalanan umur belasan di Eropa oleh partner londoku dari Jerman kemudian dicat merah menyala. Badanku penuh rajah disana sini. Sampai model terbaru ada, rajah dengan bara api, seperti ketika para penggembala kuda memberi tanda dipantat kuda peliharaannya dengan logam yang dibakar. Lobang hidung dan pelipisku ku dicocok dengan timah anti karat mirip lembu lembu suci di Gangga sana.
Ingin rasanya kutinggalkan negri munafik ini dan pergi kenegri dimana manusia berambut merah sepertiku bisa menemukan belahan jiwa. Tapi aku mencintai Fatimah! Hadir kembali dihadapanku sosok wajah Fatimah yang pucat pasi ketika kunyatakan cintaku padanya. “Ya ampun mbak….!!!” Fatimah setengah berteriak berlari sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya keluar dengan langkah pendek tergopoh terhalang terusannya. Baiknya kulupakan saja rindu ibu di kampung halaman dan pergi entah kemana, mungkin ke negri dimana dijalan-jalan besar dan di gang-gang sempitnya terdapat gadis belok berambut merah sepertiku, disana mungkin aku bisa menemukan pasangan hidupku, belahan jiwaku. ----
(2) Kakek
Aku adalah seorang kakek renta yang menyanyikan kembali lagu yang kugubah puluhan tahun silam. Lagu itu kuberi judul batuk menahun. Kuambil harmonika tua bikinan negeri asal para peniru dan penipu, lalu kuapit diantara bibir hitam ditinggal noda oleh kopi Madura dan kretek Jawi. Aku mulai bergumam tentang kalimat kalimat sedih para pekerja ladang kapas tentang janji dan mantera untuk Pagan yang dipuja orang-orang pengembara di selatan negeri jauh disana.
Duduk terkulai disebuah kursi tua kayu jati, tinggalan nenek moyang yang tak habis dimakan rayap tujuh terah tujuh turunan, kukenang kembali masa jaya beliaku. Dimasa aku dipuja para gadis, punya banyak karib, semua orang kagum padaku dan pada lagu gubahanku batuk menahun. Teringat kembali tentang seorang karibku bernama Tilaman yang aku kenal di sebuah pagelaran kala beliaku. Tilaman juga adalah pujaan para gadis, punya banyak karib dan dikagumi banyak orang akan piawainya bersenandung dalam enam tali.
Kami habiskan banyak waktu bersenandung bersama. Bersenandung tentang rintihan para pekerja ladang kapas tentang janji dan mantera untuk Pagan yang dipuja orang-orang pengembara. Aku bergumam dengan harmonika tua bikinan negeri asal peniru dan penipu, Tilaman merintih dalam enam tali bikinan negeri orang loba, sombong dan juga penipu. Tilaman sangat bangga dengan ke-enam talinya itu. Dia selalu berujar bahwa keenam tali bikinan negeri orang loba, sombong dan juga penipu itu tiada tandingannya dijagad. Ke-enam tali itu dipahat dari kayu paling bagus dari negeri orang loba, sombong dan juga penipu kata seorang mister kepadanya.
Tilaman mendapatkan ke-enam tali itu dengan menukarkan kursi kayu jati tinggalan nenek moyang yang tak habis dimakan rayap tujuh terah tujuh turunan miliknya dengan ke-enam tali itu. Berbeda denganku, aku ditawari harmonika bikinan negeri asal para peniru dan penipu untuk ditukar dengan kursi kayu jati tinggalan nenek moyang yang tak habis dimakan rayap tujuh terah tujuh turunan oleh orang dari negeri peniru dan penipu. Tetapi aku tidak mau, karena bapak-ku pernah berpesan bahwa kursi jati tinggalan nenek moyang yang tak habis dimakan rayap tujuh terah tujuh turunan itu tidak boleh diberikan kepada orang lain. Akhirnya orang dari negeri peniru dan penipu mau memberikan harmonika bikinan negeri mereka itu kepadaku dengan satu persyaratan. Harmonika itu ditukar dengan sarung padang rusak milik ibuku yang didapatkannya sebagai tanda mata dari seorang karib dari negeri Andalas.Dan akupun menukarnya untuk mendapatkan harmonika dari negeri orang peniru dan penipu itu.
Suatu ketika seusai pagelaran, seorang mister menghampiri Tilaman dan mengajaknya berbincang. Mereka berbincang tentang banyak hal. Setelah berbincang akrab Mister berujar selamat malam lalu pergi. Mister pergi bersama Tilaman kenegeri orang loba, sombong dan juga penipu. Meninggalkanku. Pernah suatu ketika orang dari negeri peniru dan penipu juga mengajakku berbincang. Orang dari negeri peniru dan penipu juga mengajakku pergi ke negerinya. Tetapi aku menolak mentah-mentah ajakannya itu.
Kembali aku duduk terkulai disebuah kursi tua kayu jati, tinggalan nenek moyang yang tak habis dimakan rayap tujuh terah tujuh turunan, menyanyikan kembali lagu yang kugubah puluhan tahun silam tentang kalimat kalimat sedih para pekerja ladang kapas tentang janji dan mantera untuk Pagan yang dipuja orang-orang pengembara di selatan negeri jauh disana, sambil mengenang kembali masa jaya beliaku. Dimasa aku dipuja para gadis, punya banyak teman, semua orang kagum padaku dan pada lagu gubahanku batuk menahun.
Entah bagaimana kabar karibku Tilaman di negeri loba, sombong dan juga penipu. Aku tak kuasa untuk terus berpikir tentangnya. Apa yang terjadi dengan karibku Tilaman? Adakah dia masih merintih dalam enam tali bikinan negeri orang loba, sombong dan juga penipu? Entah apa yang terjadi pada diriku seandainya aku ikut pergi dengan orang peniru dan penipu ke negeri mereka. Gairah masa belia menghantuiku, ingin rasanya aku kembali dan mencoba.---- (brsmbng)
Charlie Meliala
(wegah jadi prosais)